Senin, 13 April 2015

Burung beo

Alkisah disuatu Pondok Pesantren desa Sukakenthir yang dipimpin oleh seorang Kyai yang masih muda, energik tetapi penuh wibawa. Pak Kyai yang masih muda ini mempunyai beragam kegemaran, dan salah satu kegemarannya yaitu piara burung beo. Karena piaraan seorang kyai, si beopun kalau sekedar menirukan assalamu'alaikum sudah sangat fasih. Sehari hari si beo selalu mengucap Allah, kalau ada orang lewat selalu mengucap assalamu'alaikum, bahkan fasih pula mengucap Lailahaillallah. Dalam suatu komonitas entah itu di kampung, kampus, sekolahan dan di pesantren inipun selalu ada orangorang yang baik, usil, mbeling dan sebagainya, seperti santri yang satu ini, dia sok pinter tetapi temantemannya menganggap keminter, orangnya galak tetapi tidak menakutkan. Suatu hari Sido Brakotono, nama santri yang jahil ini, melihat Pak Kyai sedang memberi makan beo kesayangannya sambil ngajari menirukan beberapa kalimat thoyibah. Sido Brakotono iri pada si beo yang mendapatkan layanan khusus ini, uh dasar kyai gemblung, burung saja diajari begitu intensif sekali, mana diriku sudah beberapa bulan, nahwu, sorrof apalagi belaghoh kapan rampunge, awas kau beo. Ancam Sido Brakotono pada si beo. Singkat cerita (kalau kepanjangen do wegah moco), pak Kyai mendengar burungnya 'klabakan' (bhs indonesianya klabakan ki opo yo) dan berakhir dengan suara keras dan tertahan mak "KEK". Pak Kyai terkejut dan bergegas menengok, apa yang terjadi pada si beo. Karena kehadiran pak Kyai, si kucing lari meninggalkan beo yang terkapar mati dengan bulu yang berserakan. Astaghfirullahal adzim, kucing itu tadi masuk darimana, gumam pak Kyai. Ternyata dibalik dinding Sido Brakotono tersenyum puas melihat kucing yang dimasukkan berhasil menubruk hingga mati beo kesayangan pak Kya. Harapan Sido Brakotono dengan matinya si beo, pak Kyai bisa lebih fokus dan intensif dengan para santrinya. Sehari setelah kematian si beo, pak Kyai tidak tampak di pondokan, para santri bertanyatanya dalam hati, mungkin pak Kyai sangat bersedih dengan kematian si beo yang cerdas itu. berbagai asumsi, prasangka baik maupun buruk segera beredar. (Biar cepet dikit, kan gak ada honornya) ...... Bahkan sampai 3 hari sejak kematian beo, pak Kyai masih juga belum muncul di hadapan para santri, semua gelisah, Sido Brakotono malah bikin ulah, mau demo di rumah pak Kyai, protes masak lebih memikirkan beo daripada para santri. Tetapi alhamdulillah, demo dapat dicegah berkat nasihat santri dari Kroya mas Aliem Thenan Khae. Dengan santunnya mas Aliem menasehati Sido Brakotono dan mengajaknya sowan kepada pak Kyai. Assalamu'alaikum pak Yai..... lama tidak ada jawaban, rumah terlihat sepi, lalu diketuknya pintu dan diulangi salamnya, lalu terdengar jawaban dari dalam wa'alaikumsalam..... eee.. mas Aliem dan mas Brakot, silakan masuk, ada apa ini. Sido Brakotono langsung bertanya : "Begini pak Yai, panjenengan hanya kehilangan seekor burung saja kok bersedih sampai 3 hari tidak menampakkan diri, para santri pada bingung ini pak Yai, bagaimana ini pak Yai" Mas Aliem hanya diam saja sambil menunduk, takut kalau kalau pak Yai marah dengan sikap Brakotono yang kurang sopan ini. Pak Yai : "Oooo.... itu tho masalahnya, gini ya ... tolong nanti sampaikan kepada para santri ya mas Aliem" Aliem : "Inggih Romo Yai" Pak Yai : "Memang ..... dengan kematian si beo itu saya sangat bersedih", belum selesai pak Yai bercerita sudah disaut oleh Sido Brakotono : "Sedih ya sedih pak Yai, tetapi kalau sampai 3 hari gak mau ngajar... trus bagaimana kita kita ini" Aliem Thenan Khae cepat cepat mencubit pantat Brakotono sambil berbisik : "diam dulu ah, dengerin dulu romo Yai ngendikan ... " Pak Yai : "Saya bersedih bukan karena kehilangan seekor burung yang cerdas itu. Kalian tahu kan, burung itu hanya kalimat thoyibah yang dikenalnya tiada lain, tetapi kenapa waktu mau mati yang terucap kok hanya mak "KEK", saya takut seperti burung itu, hanya pandai mengucap di lisan, waktu mati tidak ingat pada Allah, saya sedih, saya takut, lalu saya menyendiri, berkhalwat, mohon pada Allah bila saya mati nanti jangan seperti burung itu, mengertikah kalian ?" Mendengar cerita ini Sido Brakotono lalu menggigil, gemetaran dan langsung sungkem pada pak Yai "Pak Yai, saya mohon maaf, yang menaruh kucing itu saya karena saya iri pada burung itu yang mendapat perhatian penuh dari panjengan, sekarang saya pasrah, akan dihukum apapun saya pasrah"
Promosikan produk anda di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar